TerasKata.net

pindah ke http://teraskata.net

KembaraNusaTenggara: Menuju Moni

“Nanti Om carikan bus ke Moni! Tenang-tenang saja sudah.”

Berat rasanya meninggalkan Larantuka. Betapa kota ini membuat saya terpikat akan keindahan alam dan keramahan masyarakatnya. Namun, perjalanan harus berlanjut. Terus ke barat menuju Kelimutu.

Senin malam di penghujung Maret menjadi hari berkemas untuk beranjak dari kota paling timur Pulau Flores. Om Sofyan berbaik hati memesankan kursi penumpang untuk bus Larantuka – Maumere – Ende. Bus memang lebih baik dipesan terlebih dahulu daripada langsung menunggu di pinggir jalan. Ada kemungkinan tidak mendapat tempat duduk yang nyaman atau bahkan tidak kebagian bus.

Bus menuju Ende hanya ada jam 06.00-07.00 pagi karena bentangan jaraknya mencapai 250-an km. Berjarak tempuh sekitar tujuh jam. Belum termasuk waktu istirahat makan di titik tertentu. Kalau ke Moni, tinggal kurangi 1-2 jam saja karena posisinya sebelum Ende jika dari Larantuka.

Selasa dini hari (29/03/2016), saya sudah bangkit dari tempat tidur. Mengecek dan merapikan kembali barang bawaan. Selanjutnya, saya mandi dan makan pagi. Sekitar pukul 05.30 WITA, saya ijin ke kota untuk mengambil uang di mesin ATM. Tersedia banyak ATM BRI, beberapa BNI, dan sedikit Bank Mandiri. Sialnya, mesin BRI gangguan sehingga membuat saya panik. Uang tunai saya tidak akan cukup untuk melanjutkan perjalanan jika begini kondisinya. Sewaktu di Surabaya, saya sempat memisahkan sebagian uang di BNI untuk berjaga-jaga. Akhirnya, saya mengelilingi kota mencari mesin bank tersebut. Puji Tuhan, mesin penarik uangnya berfungsi.

Saat matahari mulai menampakkan diri, saya mohon pamit undur diri. Beribu terima kasih saya ucapkan untuk keluarga Hadjon atas kesediaannya menerima kehadiran saya selama beberapa hari. Usai pamit dan berfoto bersama, saya menunggu bus yang telah dipesan oleh Om Sofyan, famili dari keluarga Hadjon. Tempat saya menunggu tidak jauh dari sekolah, terlihat anak-anak berseragam putih abu-abu mulai berdatangan untuk menimba ilmu.

Selama menunggu, datang pula dua orang lelaki berusia sekitar 60-an dan 30-an. Yang lebih muda menyapa, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana, seperti kota tujuan dan selama di Larantuka menginap di mana. Saya jawab di rumah di belakang sekolah, menumpang di rumah warga karena tidak kebagian penginapan. Ia menimpali bahwa masyarakat Larantuka akan senang jika ada peziarah yang menginap di rumahnya dan akan bersedih jika tidak ada yang menginap. Hal ini dikarenakan Festival Semana Santa merupakan perayaan kebanggaan warga yang diadakan hanya setahun sekali.

“Jangan ragu untuk mengetuk rumah di sini. Kalau ada ruangan, pasti diberi tumpangan.”, ujar laki-laki yang ternyata mengantarkan ayahnya untuk menunggu bus ke Ende. Namun, bus pesanan kami berbeda. Armada bus saya datang lebih dulu. Tas carrierย diletakkan di atas bus oleh kernet dan diikat tali.

Bus berukuran sedang ini memiliki posisi duduk 2-2. Saya mendapat tempat duduk di pinggir, tidak kebagian yang dekat jendela. Beberapa menit setelah saya naik, bus melaju pelan karena masih menaikkan beberapa penumpang. Kurang tidur membuat saya mengantuk pagi ini, saya meniup bantal leher agar bisa tidur dengan nyaman.

Bangku-bangku terisi penuh. Bus mulai melesat melewati liuk-liuk jalan Larantuka. Pemandangan laut dan bukit-bukit sungguh memanjakan mata. Hanya saja, kelokkan tajam membuat saya tidak dapat terlelap. Ditambah dengan volume musik yang memekakkan telinga. Saya hanya bisa berpegangan agar tetap bertahan di posisi saya.

Rasa mual mulai mengganggu. Saya berdoa agar tidak mabuk di jalan. Sebisa mungkin saya pejamkan mata, lekas tidur biar tidak mual terus. Jangan sampai muntah, batin saya. Sedikit-sedikit bisa tidur meski tidak nyenyak. Acap kali terbangun karena bus mengerem tiba-tiba.

IMG_1103

Bus Larantuka – Ende

Dua jam berlalu, terasa begitu lama. Kami berhenti di Desa Boru. Boru merupakan sebuah desa di Kabupaten Flores Timur. Titik transit yang pertama. Terdapat rumah makan dan warung-warung yang berjualan cemilan maupun buah-buahan.

Betapa terkejut saya karena buah-buahan di sini dijual dengan harga tinggi. Seperti rambutan dihitung per tumpukan yang isinya sekitar 8-10 buah dijual seharga Rp10.000. Sementara, dengan harga tersebut di Pulau Jawa rambutan dijual per ikat yang mencapai 40-60 buah. Katanya, buah-buahan sulit tumbuh di pulau ini. Buah yang banyak tumbuh di Flores adalah pisang dan alpukat, sehingga harga per sisir atau per kilonya cukup terjangkau.

IMG_1106

Buah-buahan yang dijual di Boru

Sekitar tiga puluh menit kami transit. Banyak penumpang yang antre ke toilet. Sisanya ada yang langsung memesan makanan. Saya sendiri masih cukup kenyang sarapan tadi pagi. Hanya ke toilet dan sisanya berjalan keliling-keliling. Saat berkeliling, saya bertemu dengan seorang ibu yang juga jauh-jauh datang dari Jakarta untuk mengikuti Semana Santa. Beliau begitu mendukung anak muda yang suka berpergian karena dapat menambah khazanah pengetahuan mengenai nusantara dan mengenali masyarakat setempat.

Sopir mulai menyalakan mesin. Penumpang naik satu per satu. Musik kembali berdendang. Pilihan lagu cukup trendi, banyak diputar lagu masa kini. Dicampur dengan lagu-lagu berbahasa lokal dan diselipkan tembang kenangan. Petualangan lintas Flores akan berlanjut lagi. Dalam hati saya berdoa: Tuhan, lindungilah kami sepanjang perjalanan.ย 

Sepertinya sopir memang mengisi tenaga untuk medan yang lebih ekstrem. Lebar Jalan Nasional hanya memuat dua mobil dari arah berlawanan dengan jarak yang begitu dekat. Belum lagi, beberapa bagian jalanan yang tidak rata. Selanjutnya, tanjakan demi tanjakan dilewati dengan cukup gesit. Tikungan demi tikungan dilalui begitu lihai. Melihat jurang-jurang di tepi jalan, saya bergidik ngeri. Saya semakin giat berdoa dalam hati. Rasanya seperti menyabung nyawa di tanah asing. Sendiri dan tak ada yang mengenali. Kalau sampai sesuatu terjadi, tidak tahu akan bagaimana jadinya nanti.

“Mampus kau dikoyak kelok jalanan!”, maki saya dalam hati. Tentunya, kepada diri sendiri. Mau-maunya traveling melewati jalanan ekstrem seperti ini.

Saya terus berusaha memejamkan mata. Tidur tidak tidur yang penting tidak usah melihat tepi jalan yang bikin frustasi. Lama-lama, akhirnya bisa tidur juga, meski hanya beberapa menit saja. Terbangun karena tikungan tajam, mencoba tidur lagi sambil menahan mual dan memanjatkan doa keselamatan. Terus begitu hingga bus berdecit tajam dan panjang, berhenti mendadak membuat seisi bus kaget dan berteriak. Mobil dari arah berlawanan tidak memberikan tanda klakson sehingga sopir bus tidak bersiap untuk menunggu di sebelum tikungan. Kejadian yang membuat jantung penumpang berdegup kencang. Melihat sisi kiri jalan terdapat jurang yang kelihatannya dalam. Kedua kendaraan berhenti beberapa detik, kemudian melanjutkan perjalanan. Seperti tidak apa-apa.

Selama lima jam saya dikenyangkan oleh tikungan-tikungan tajam berbahaya. Jalanan cukup membaik ketika sampai Maumere. Pukul 14.15 WITA, bus berhenti untuk transit makan siang. Saya masih menolak untuk makan berat karena trauma dengan jalanan yang mengerikan. Sejak transit pertama hingga yang kedua, saya bertahan dengan makan biskuit dan teh manis hangat.

IMG_1112

“Yang tabah ya, Mbing!”

Melihat trek yang begitu rawan kecelakaan, pantas saja seorang pemilik motor enggan mengendarai motornya. Ia lebih memilih untuk menitipkan motornya di bus. Bus membawa motor. Bus juga bisa membawa kambing dan ditempatkan di kap mobil. Saya begitu kasihan dengan kambing tersebut karena harus melalui cobaan jalur ekstrem ini.

Moni, desa terakhir sebelum Kelimutu, tinggal empat puluh menit lagi. Tidak sabar untuk cepat-cepat sampai. Penumpang di sebelah saya mengatakan bahwa jalur ke Moni sudah lebih baik, tidak separah jalur sebelumnya. Syukurlah.

Kanan dan kiri jalan mulai terlihat sawah dan ladang. Akhirnya, sampailah saya di Moni yang mulai berkabut. Awalnya, saya dikenai tarif Rp120.000, tetapi saya tawar karena tarif tersebut adalah tarif Larantuka – Ende. Ende masih dua jam lagi dari sini. Kernet pun mengiyakan tawaran saya. Selembar rupiah bergambar Soekarno-Hatta saya berikan kepadanya.

Dingin mulai menyergap pori-pori tubuh. Dari pesisir yang terik, kini tiba di dataran tinggi yang berbeda hingga beberapa derajat Celcius. Hari semakin senja, saya harus segera mencari penginapan kalau tidak mau menggigil kedinginan.

ย 

8 comments on “KembaraNusaTenggara: Menuju Moni

  1. @eviindrawanto
    12 May 2016

    Jadi menikmati buah lebih baik sesuai endemiknya ya, Kak. Kalau makan rambutan terus sambil ngitung berapa rupiah per bijinya kalau untuk saya bisa jadi seret. Pengalaman luar biasa di Indonesia Timur. Salut ๐Ÿ™‚

    Like

    • diteraskata
      13 May 2016

      Ya namanya pejalan harus hitung-hitung biaya juga. Karena sudah sering makan rambutan, akhirnya kemarin beli buah mentega yang asli Larantuka. Terima kasih sudah mampir ๐Ÿ™‚

      Like

  2. mozienk
    12 May 2016

    Waw keren mbak, aku udah comment yak, hmmmm bagus mbak, kata2nya bisa dibaca ๐Ÿ˜€

    Like

    • diteraskata
      13 May 2016

      Teima kasih sudah mampir dan komen ya, Mas Popo ๐Ÿ˜€
      Sering-sering mampirnya. Hehe

      Like

  3. ceriloranye | tutursiska
    1 November 2016

    Salam kenal mba. Kalau mau Overland flores kayaknya emang harus siap mental melintasi jalan berliku tajam ya. Oh ia selain bis, transportasi travel dr Larantuka ke MONI berupa apa ya? Dan mba tau tarifnya berapa?

    Like

    • diteraskata
      1 November 2016

      Salam kenal, Mbak Siska ๐Ÿ™‚
      Iya memang harus siap mental, Mbak. Paling travel atau nebeng truk, Mbak. Hehe
      Travel mungkin 100rb ke atas karena bis saja sampe 100rb harganya.

      Like

      • ceriloranye | tutursiska
        1 November 2016

        Terus di blog mba, habis dr kelimutu lanjut ke mana lagi mba? Sy nggak nemuin lagi lanjutan ceritanya

        Like

  4. diteraskata
    6 November 2016

    Ada lanjutannya, Mbak. Saya lanjut ke Ende dengan judul #KembaraNusaTenggara: Menjelajahi Kota Pancasila. Sisanya memang belum ditulis lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: